Rational Emotive Therapy
Ringkasan- Pengertian Rational Emotive Therapy
Istilah Rational Emotive Therapy sukar diganti dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena; pailing-paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dengan akal sehat (rational thinking), berperasaan (emotioning), dan berperilaku (acting), serta sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali cara berpikir dan memanfaatkan akal sehat. Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah Albert Ellis, yang telah menerbitkan banyak karangan dan buku, antara lain buku yang berjudul Reason and Emition in Psychotherapy (1962), A new Guide to Rational Living (1975), serta karangan yang berjudul The Rational Emotive Approach to Counseling dalam buku Burks Theoris of Counseling (disingkat RET) berasal dari aliran pendekatan kognitif-behavioristik. Banyak buku yang telah terbit mengenai cara-cara memberikan konseling kepada diri sendiri, mengambil inspirasi dari gerakan RET.
Asumsi semua terapi kognitif adalah cara orang memahami dunianya merupakan salah satu penentu utama—jika bukan penentu yang paling utama—perasaan dan perilaku mereka.
2. Sejarah Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT)
Rational-emotive behavior therapy (REBT) adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Albert Ellis pada tahun 1950an yang menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku (Corey, 1995,p.381). Pada awalnya pendekatan ini disebut Rational therapy (RT) kemudian Ellis mengubahnya menjadi Rational-Emotive Therapy (RET) pada tahun 1961. Pada tahun 1993, dalam News letter yang dikeluarkan oleh the instituteror Rational-Emotive Therapy, Ellis mengemukakan bahwa ia mengganti nama Rational-emotive therapy (RET) menjadi Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) (nelson-Jones, 1995, p. 309; corey, 1995, p.381).
Rational-emotive behavior therapy (REBT) merupakan pendekatan kognitif-behavioral. Pendekatan ini merupakan pengembangan dari pendekatan behavioral. Dalam proses konselingnya Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) berfokus pada tingkah laku individu, akan tetapi Rational-Emotive Behavior therapy (REBT) menemukan bahwah tingkahlaku yang bermasalah disebabkan oleh pemikiran yang irasional sehingga pada focus pengamanan pada pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pemikiran individu. Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan yang bersifat direktif, yaitu pendekatan yang membelajarkan kembali konseli untuk memahami input untuk menyebabkan ganguan emosional, mencoba mengubah pemikiran konseli agar membiarkan pemikiran irasionalnya atau belajar mengantisipasi manfaat atau konsekuensi dari tingkah laku (George &cristiani, 1990, p. 81)
Kata ratioanal yang dimaksud Ellis adalah kognisi atau proses berfikir yang efektif dalam membantu diri sendiri (self helping) bukan kognisi yang valid secara empiris dan logis. Menurut Ellis, rasionalitas individu bergantung pada pilihan individu berdasarkan keinginan atau berdasarkan emosi dan perasaan (Nelson-Jenos, 1995, p. 309). Ellis mengenalkan kata behavior (tingkah laku) pada pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) dengan alasan bahwa tingkah laku sangat terkait dengan emosi dan perasaan (Nelson-Jones, 1995, p. 309).
3. Pandangan Rational Emotive Theraphy Tentang Manusia.
Pendekatan rational-Emotive behavior theraphy (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh system berfikir dan system perasaan yang berkaitan dalam system psikis individu. Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan, dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya. Secara khusus pendekatan rational-Emotive behavior theraphy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik debagai berikut:
individu memiliki potensi yang unik untuk berfikir rasional dan irasional
· Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orangtua dan budayanya.
· Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui symbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional.
· Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbalizing) yang terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri.
· Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya.
· Pikiran dan perasaan yang negative dan merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan irasional
Landasan filosofi Rational-Emotive Behavior Theraphy (REBT) tentang manusia tergambar dalam quotation dari Epictetus yang dikutip oleh Ellis:
Men are disturbed not by things, but by the views which they take of them.
(manusia terganggu bukan karena sesuatu, tetapi karena pandangan terhadap sesuatu)
Landasan filosofi Rational-Emotive behavior theraphy (REBT) tentang manusia, melekat pada epistemologi atau theory of knowledge, dialectic atau system berfikir, system nilai dan prinsip etik.Secara epistemology, individu diajak mencari cara yang reliable dan valid untuk mendapatkan pengetahuan dan menentukan bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar. Rational-Emotive Behavior Theraphy (REBT) mengadvokasi berpikir ilmiah dan berdasarkan bukti empiris. Secara dialektik, Rational-Emotive Behavior Theraphy (REBT) berasumsi bahwa berpikir logis ini tidak mudah. Kebanyakan individu cenderungahli dalam berpikir tidak logis.
Contoh berpikir tidak logis yang biasanya banyak menguasai individu adalah:
· Saya harus sempurna.
· Saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!
· Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.
Secara sistem nilai,terdapat dua nilai eksplisit dalam filosofi Rational-Emotive Behavior Theraphy (REBT) yang biasanya dipegang oleh individu namun tidak sering diverbalkan, yaitu: (1) Nilai untuk bertahan hidup (survival) dan (2) Nilai kesenangan (enjoyment). Kedua nilai ini di desain oleh individu agar ia dapat hidup lebih panjang, meminimalisir stress emosional dan tingkah laku yang merusak diri, serta mengaktualisasikan diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh dan bahagia. Tujuan-tujuan ini dipandang sebagai pilihan daripada kebutuhan. Hidup yang rasional terdiri dari pikiran, perasaan dan tingkah laku yang berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan-tujuan yang dipilih individu. Sebaliknya, hidup yang irasional terdiri dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menghambat pencapaian tujuan tersebut.
Selanjutnya, manusia dipandang memiliki tiga tujuan fundamental, yaitu: untuk bertahan hidup, untuk bebas dari kesakitan dan untuk mencapai kepuasan. Rational-Emotive behavior Therapy juga berpendapat bahwa individu adalah hedonistic, yaitu kesenangan dan bertahan hisup adalah tujuan utama hidup. Hedonism dapat diartiakn sebagai pencarian kenikmatan dan menghindari kesakitan. Bentuk hedonism khusus yang membutuhkan perhatian adalah pengindeeraan terhadap kesakitan dan ketidaknyamanan. Dalam REBT hal ini menghasilkan Low Frustation Tolerance (LFT). Individu yang memiliki LFT terlihat dari peyataan verbalnya seperti ini : ini terlalu berat, saya pasti tidak mampu, ini menakutkan, saya tidak bisa menjalani ini.
Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irasional individu yang dapat mengakibatkan masalah, yaitu:
