Minggu, 11 Juni 2017

Media Bimbingan dan dan Konseling Non Elektronik

Media Bimbingan dan dan Konseling Non Elektronik

Media bimbingan dan konseling adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan bimbingan dan konseling yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa / konseli untuk memahami diri, mengarahkan diri, mengambil keputusan serta memecahkan masalah yang dihadapi (Nursalim, 2013: 6).
Kata media berasal dari bahasa Latin medius, merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2003: 6). Briggs (dalam Sadiman dkk, 2003: 6) berpendapat bahwa media adalah sebagai alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Gerlach dan Ely (dalam Azhar Arsyad, 2002: 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. 
Media non elektronik adalah media visual yang menyajikan fakta, ide atau gagasan melalui penyajian kata – kata, kalimat, angka, dan symbol/gambar, biasanya digunakan untuk menarik perhatian, memperjelas sajian atau ide, dan mengilustrasikan fakta – fakta sehingga menarik dan diingat orang.
Kelebihan media non elektronik adalah : 1) Dapat mempermudah dan mempercapat pemahaman siswa terhadap pesan yang disajikan; 2) Dapat dilengkapi dengan warna – warna sehingga lebih menarik perhatian; 3) Pembuatan lebih mudan dan harganya murah. Sedangkan kelemahan media grafis adalah : 1) Membutuhkan keterampilan khusus dalam pembuatannya untuk grafis tertentu yang kompleks; 2) Penyajian pesan hanya berupa unsur visual.
Jenis – jenis media non elektronik diantaranya : sket, gambar, diagram, grafik, poster, kartun, komik, mural, bagan arus. Dalam kaitannya dengan pengembangan media bimbingan dan konseling, hanya disajikan penjelasan pada brosur/leaflet, poster, dan modul. Selanjutnya dalam perkembangannya, muncul beberapa media yang bisa diguunakan, diantaranya flip chart, papan bimbingan, komik, dan informasi.
Kali ini penulis akan membagi postingan menjadi beberapa item sesuai dengan bidang bimbingannya. Silahkan dilihat dan dapat menjadi bahan diskusi. Jangan lupa saran yang membangun.



Yogyakarta, 11 Juni 2017
Para Pencari Ilmu

Media Elektronik Bimbingan Pribadi-Sosial








Berikut penulis lampirkan tayangan media elektronik bimbingan pribadi sosial, thanks for watching. dan jangan lupa kritik dan saran sangat membangun.



Yogyakarta, 11 Juni 2017
Para Pencari Ilmu

Media Non-Elektronik Bimbingan Belajar

 

Berikut saya lampirkan poster media non-elektronik bimbingan belajar, seperti yang bisa teman-teman lihat di atas ini, terimakasih.


Yogyakarta, 11 Juni 2017
Para Pencari Ilmu

Media Non-Elektronik Bidang Bimbingan Karir

Hy, writers kali ini penulis nyoba buat komik buat bimbingan karir. 




Sabtu, 10 Juni 2017

Media Elektronik Bimbingan Belajar



Bagaimana ya?? cara belajar yang efektif?? 
Thanks for watching.
Jangan lupa kritik dan sarannya ya.
Maaf pemula 😃😂






Yogyakarta, 11 Juni 2017
Para Pencari Ilmu

Media Non Elektronik Bidang Bimbingan Pribadi

Skala Psikologi

Hello Guys, seperti yang sudah penulis kemukakan sebelumnya, bahwa perbedaan antara skala dan angket/kuesioner akan dibahas pada post yang memuat tentang skala. So cekidot!!

Pertama kita akan membahas terlebih dahulu apa itu skala secara ringkas, karena penjelasan lebih lengkap bisa kalian dapatkan di referensi-referensi yang penulis cantumkan diakhir post.
Skala psikologi merupakan salah satu alat pengumpulan data yang mengukur aspek dibidang non-fisik, khususnya di bidang psikologi. Pengukuran dibidang fisik  seperti berat badan, kecepatan kendaraan, luas bidang datar, suhu udara, dan masih banyak lainnya. Sedangkan pengukuran di bidang non-fisik atau psikologis jauh lebih sukar, sebab atribut non-fisik tidak dapat diukur sampai pada tingkat rasio, yaitu angka interval yang memiliki harga nol mutlak. Mengapa hal ini dapat terjadi?
Hal ini dapat terjadi karena, atribut psikologi bersifat latent, artinya objek pengukuran psikologi merupakan konstrak yang tidak dapat teramati secara langsung melainkan hanya dapat diungkap secara tidak langsung melalui banyak indikator keperilakuan operasional. Aitem-aitem yang ditulis pun terbatas pada indikator keperilakuan. Respon yang diberikan responden terhadap stimulus dalam skala psikologi sedikit-banyak dipengaruhi oleh variabel-variabel yang tidak relevan seperti suasana hati subjek, gangguan kondisi dan situasi di sekitar, dan lain sebagainya.
Lalu apa dong perbedaannya dengan angket? Toh sama-sama berbentuk pengukuran non-fisik juga? dan sama-sama ingin mengungkap sesuatu dari responden?

Nah, Meskipun dalam pengunaan sehari-hari banyak disama-samakan, namun ternyata kedua instrumen ini berbeda loh, ini perbedaanya:

1. Data yang diungkap oleh angket berupa data faktual atau yang dianggap fakta dan kebenaran yang diketahui oleh subjek, sedangkan data yang diungkap oleh skala psikologi adalah deskripsi mengenai aspek kepribadian individu. Detailnya, data seperti riwayat pendidikan, jumlah anggota keluarga, pilihan metode KB, penghasilan rata-rata perbulan, jenis film yang disukai merupakan data yang diungkap oleh angket/kuesioner. sedangkan data yang dapat diungkap dengan skala seperti, data mengenai tendensi agresivitas, sikap terhadap sesuatu, self-esteem, motivasi, strategi menghadapi masalah, dan lainnya.

2. Pertanyaan dalam angket berupa pertanyaan langsung terarah kepada informasi mengenai data yang hendak diungkap. sedangkan pada skala psikologi aitem-aitemnya merupaka penerjemah dari indikator keperilakuan guna memancing jawaban yang tidak secara langsung menggambarkan keadaan diri responden, yang biasanya tidak disadari oleh responden.

Gimana? berbeda bukan?
Nah itu tadi sekilas pembahasan mengenai skala dan angket. Walaupun kita menganggap mereka kembar tapi mereka berbeda. Buat kamu yang pengen tau lebih dalam dan penulis berharap belum puas dengan penjelasan di blog ini, bisa tuh cek referensi yang dicantumin di akhir tulisan, dan tak lupa penulis mencantumkan contoh skala psikologi. 


Referensi:
Azwar, S. (2017). Penyusunan Skala Psikologi: edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kuesioner




Kuesioner atau angket merupakan salah satu alat pengumpul data dalam asesmen non ter, berupa serangkaian pertanyaan atau pernyataan yang diajukan pada responden (peserta didik, orang tua, atau masyarakat). Winkel mendefinisikan angket sebagai suatu daftar atau kumpulan pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis juga (Winkel, Hastuti. S., 2010:270). Angket dikenal juga dengan sebutan kuesioner. Alat asesmen ini secara garis besar terdiri dari tiga bagian, yaitu: 
1. Judul angket.
2. Pengantar yang berisi tujuan dan petunjuk pengisian angket.
3. Item-item pertanyaan, bisa juga opini atau pendapat, dan fakta. Sementara, pada bagian identitas pengisiannya tergantung pada tujuan angket, sebab terkadang indentitas tidak diperlukan  dalam angket.

Adapun tujuan angket ialah untuk menghimpun sejumlah informasi yang relevan dengan keperluan bimbingan dan konseling, seperti identitas pribadi peserta didik, keterangan tentang keluarga, riwayat kesehatan, riwayat pendidikan, kebiasaan belajar di rumsh, hobi atau informasi faktual lainnya.

Meskipun terkadang dalam kesehariannya penggunaan angket/kuesioner dan skala disamakan, namun perlu dijelaskan bahwa sebagai sesama alat pengumpul data, kedua instrumen tersebut berbeda.
Perbedaan tersebut akan di bahas pada pembahasan skala.

Untuk jenis angket, pertanyaan dan pernyataan dalam angket dapat berupa pertanyaan tertutup atau pertanyaan terbuka. Angket dengan pertanyaan atau pernyataan tertutup berarti pada angket tersebut pilihan jawaban telah ditentukan penyusun angket. Sehingga responden dapat langsung memilih jawaban yang telah disediakan, jawaban terikat dan tidak memberikan kebebasan responden untuk menjawab.
Sedangkan, pertanyaan dan pernyataan dalam angket terbuka, sebaliknya meminta responden menjawab sebebas-bebasnya dengan uraian yang lengkap. Selain itu terdapat yang menggabungkan keduanya, sehingga selain di isi dengan jawaban-jawaban yang dipilih, angket tersebut juga memberikan kolom jawaban sebagai bagian dari pernyataan terbuka.

Dibawah ini, penulis mencantumkan hasil tugas penulis. Semoga dapat bermanfaat sebagai bahan pembelajaran kita masing-masing.

Kuesioner Bidang Bimbingan Belajar
Kuesioner Bidang Bimbingan Karir
Kuesioner Bidang Bimbingan Pribadi-Sosial


Yogyakarta, 11 Juni 2017
Para Pencari Ilmu






Referensi:
Winkel, W.S., Sri Hastuti. (2010). Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Rabu, 07 Juni 2017

Ringkasan buku "BECOMING A HELPER"

Ringkasan buku "BECOMING A HELPER"

becoming a helper cover
Hai, guys kali ini kita akan mencoba meringkas tentang buku yang luar biasa berjudul "Becoming a Helper" , buku yang ditulis oleh tokoh  bimbingan dan konseling legendaris yakni pasangan suami istri, Marianne Scheider Corey dan Gerald Corey ini merupakan buku yang bertujuan untuk membantu helper dalam hal ini konselor untuk mengetahui dan berkonsentrasi pada masalah untuk menjadi helper yang efektif atau fokus pada kesulitan pribadi dalam bekerja dengan orang lain.
Pasangan suami istri Marianne Scheider Corey dan Gerald Corey, dalam menulis buku memikirkan mereka yang merencanakan karir di bidang layanan jasa, kosenling, pekerja sosial, psikologi, terapi pada pasangan dan keluarga, sosiolog, atau profesi yang terkait dengan membantu orang lain dan baru memulai karir dalam bidang tersebut.

Buku yang mereka tulis ini juga memberikan gambaran umum dan pendahuluan, dan pada akhirnya akan membawa kita mengikuti rangkaian pelajaran terpisah mengenai setiap topik bab yang disajikan. Harapan mereka bahwa dapat mengenalkan kita pada topik yang terdapat dalam masing-masing bab sedemikian rupa sehingga dapat dipelajari untuk belajar lebih banyak tentang masalah-masalah yang sering terjadi dan yang disajikan dalam buku ini. buku ini sangat cocok digunakan sebagai pelengkap buku teks yang berhubungan dengan keterampilan membantu dan dengan teori dan praktik konseling. Dalam buku ini, disajikan kajian tentang perjuangan, kecemasan, dan ketidakpastian para helper dalam menghadapi konseli. Selain itu, buku ini juga mengeksplorasi secara mendalam tuntutan dan dorongan profesi yang membantu dan pengaruhnya terhadap praktisi. Pembaca ditantang untuk menyadari dan memeriksa motivasi mereka untuk terjun pada karir di bidang profesi helper. Buku yang disajikan pasangan ini ditujukan untuk membantu pembaca dalam menilai apa yang akan mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.

Itu tadi sekilas, prakata yang penulis kutip langsung dari buku "Becoming a Helper" yang ditulis oleh Marianne Scheider Corey dan Gerald Corey.

Buku edisi lengkapnya dapat teman-teman baca dengan mencari e-book "Becoming a Helper".
Penulis memohon saran dan share ilmu dari para pembaca sebagai penambah wawasan keilmuan yang dimiliki penulis, yang penulis rasa masih sangat jauh dari kata cukup.


Yogyakarta, 8 Juni 2017
Para Pencari Ilmu