Tampilkan postingan dengan label Ringkasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2017

Ringkasan buku "BECOMING A HELPER"

Ringkasan buku "BECOMING A HELPER"

becoming a helper cover
Hai, guys kali ini kita akan mencoba meringkas tentang buku yang luar biasa berjudul "Becoming a Helper" , buku yang ditulis oleh tokoh  bimbingan dan konseling legendaris yakni pasangan suami istri, Marianne Scheider Corey dan Gerald Corey ini merupakan buku yang bertujuan untuk membantu helper dalam hal ini konselor untuk mengetahui dan berkonsentrasi pada masalah untuk menjadi helper yang efektif atau fokus pada kesulitan pribadi dalam bekerja dengan orang lain.
Pasangan suami istri Marianne Scheider Corey dan Gerald Corey, dalam menulis buku memikirkan mereka yang merencanakan karir di bidang layanan jasa, kosenling, pekerja sosial, psikologi, terapi pada pasangan dan keluarga, sosiolog, atau profesi yang terkait dengan membantu orang lain dan baru memulai karir dalam bidang tersebut.

Buku yang mereka tulis ini juga memberikan gambaran umum dan pendahuluan, dan pada akhirnya akan membawa kita mengikuti rangkaian pelajaran terpisah mengenai setiap topik bab yang disajikan. Harapan mereka bahwa dapat mengenalkan kita pada topik yang terdapat dalam masing-masing bab sedemikian rupa sehingga dapat dipelajari untuk belajar lebih banyak tentang masalah-masalah yang sering terjadi dan yang disajikan dalam buku ini. buku ini sangat cocok digunakan sebagai pelengkap buku teks yang berhubungan dengan keterampilan membantu dan dengan teori dan praktik konseling. Dalam buku ini, disajikan kajian tentang perjuangan, kecemasan, dan ketidakpastian para helper dalam menghadapi konseli. Selain itu, buku ini juga mengeksplorasi secara mendalam tuntutan dan dorongan profesi yang membantu dan pengaruhnya terhadap praktisi. Pembaca ditantang untuk menyadari dan memeriksa motivasi mereka untuk terjun pada karir di bidang profesi helper. Buku yang disajikan pasangan ini ditujukan untuk membantu pembaca dalam menilai apa yang akan mereka dapatkan dari pekerjaan mereka.

Itu tadi sekilas, prakata yang penulis kutip langsung dari buku "Becoming a Helper" yang ditulis oleh Marianne Scheider Corey dan Gerald Corey.

Buku edisi lengkapnya dapat teman-teman baca dengan mencari e-book "Becoming a Helper".
Penulis memohon saran dan share ilmu dari para pembaca sebagai penambah wawasan keilmuan yang dimiliki penulis, yang penulis rasa masih sangat jauh dari kata cukup.


Yogyakarta, 8 Juni 2017
Para Pencari Ilmu

Selasa, 26 Februari 2013

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN MASA DEWASA

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN MASA DEWASA



A. Definisi masa dewasa
            Masa dewasa merupakan salah satu fase dalam rentang kehidupan individu setelah masa remaja. Pengertian masa dewasa ini dapat dihampiri dari sisi bbiologis, psikologis, dan pedagogis.
            Dari sisi biologis masa dewasa dapat diartikan sebagai suatu periode dalam kehidupan individu yang ditandai dengan pencapaian kematangan tubuh secara optimal dan kesiapan untuk bereproduksi.
            Dari sisi psikologis masa ini dapat diartikan sebagai periode dalam kehidupan individu yang ditandai dengan ciri-ciri kedewasaan atau kematangan, yaitu :
1.    Kestabilan emosi (emotional stability), mampu mengendalikan perasaan tidak lekas marah, sedih, cemas, gugup, frustasi, atau tidak mudah tersinggung.
2.    Memiliki sense of reality (kesadaran realitasnya) cukup tinggi mampu menerima kenyataan, tidak mudah melamun apabila mengalami kesulitan, dan tidak menyalahkan orang lain atau keadaan apabila menghadapi kegagalan.
3.    Bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang berbeda dan,
4.    Bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan.

Sabtu, 29 Desember 2012

Rational Emotive Therapy

Rational Emotive Therapy


  1.      Pengertian Rational Emotive Therapy

Istilah Rational Emotive Therapy sukar diganti dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena; pailing-paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dengan akal sehat (rational thinking), berperasaan (emotioning), dan berperilaku (acting), serta sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali cara berpikir dan memanfaatkan akal sehat. Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah Albert Ellis, yang telah menerbitkan banyak karangan dan buku, antara lain buku yang berjudul Reason and Emition in Psychotherapy (1962), A new Guide to Rational Living (1975), serta karangan yang berjudul The Rational Emotive Approach to Counseling dalam buku Burks Theoris of Counseling (disingkat RET) berasal dari aliran pendekatan kognitif-behavioristik. Banyak buku yang telah terbit mengenai cara-cara memberikan konseling kepada diri sendiri, mengambil inspirasi dari gerakan RET.
Asumsi semua terapi kognitif adalah cara orang memahami dunianya merupakan salah satu penentu utama—jika bukan penentu yang paling utama—perasaan dan perilaku mereka.

 2. Sejarah Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT)
Rational-emotive behavior therapy (REBT) adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Albert Ellis pada tahun 1950an yang menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku (Corey, 1995,p.381). Pada awalnya pendekatan ini disebut Rational therapy (RT) kemudian Ellis mengubahnya menjadi Rational-Emotive Therapy (RET) pada tahun 1961. Pada tahun 1993, dalam News letter  yang dikeluarkan oleh the instituteror Rational-Emotive Therapy, Ellis mengemukakan bahwa ia mengganti nama Rational-emotive therapy (RET) menjadi Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) (nelson-Jones, 1995, p. 309; corey, 1995, p.381).
Rational-emotive behavior therapy (REBT) merupakan pendekatan kognitif-behavioral. Pendekatan ini merupakan pengembangan dari pendekatan behavioral. Dalam proses konselingnya Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) berfokus pada tingkah laku individu, akan tetapi Rational-Emotive Behavior therapy (REBT) menemukan bahwah tingkahlaku yang bermasalah disebabkan oleh pemikiran yang irasional sehingga pada focus pengamanan pada pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pemikiran individu. Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan yang bersifat direktif, yaitu pendekatan yang membelajarkan kembali konseli untuk memahami input untuk menyebabkan ganguan emosional, mencoba mengubah pemikiran konseli agar membiarkan pemikiran irasionalnya atau belajar mengantisipasi manfaat atau konsekuensi dari tingkah laku (George  &cristiani, 1990, p. 81)
Kata ratioanal yang dimaksud Ellis adalah kognisi atau proses berfikir  yang efektif dalam membantu diri sendiri (self helping) bukan kognisi yang valid secara empiris dan logis. Menurut Ellis, rasionalitas individu bergantung pada pilihan individu berdasarkan keinginan atau berdasarkan emosi dan perasaan (Nelson-Jenos, 1995, p. 309). Ellis mengenalkan kata behavior (tingkah laku) pada pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) dengan alasan bahwa tingkah laku sangat terkait dengan emosi dan perasaan (Nelson-Jones, 1995, p. 309).

             3. Pandangan Rational Emotive Theraphy Tentang Manusia.
Pendekatan rational-Emotive behavior theraphy (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh system berfikir dan system perasaan yang berkaitan dalam system psikis individu. Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan, dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya. Secara khusus pendekatan rational-Emotive behavior theraphy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik debagai berikut:
individu memiliki potensi yang unik untuk berfikir rasional dan irasional
·            Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orangtua dan budayanya.
·            Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui symbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional.
·            Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbalizing) yang terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri.
·            Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya.
·            Pikiran dan perasaan yang negative dan merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan irasional
Landasan filosofi Rational-Emotive Behavior Theraphy (REBT) tentang manusia tergambar dalam quotation dari Epictetus yang dikutip oleh Ellis:
Men are disturbed not by things, but by the views which they take of them.
(manusia terganggu bukan karena sesuatu, tetapi karena pandangan terhadap sesuatu)
Landasan filosofi Rational-Emotive behavior theraphy (REBT) tentang manusia, melekat pada epistemologi atau theory of knowledge, dialectic atau system berfikir, system nilai dan prinsip etik.Secara epistemology, individu diajak mencari cara yang reliable dan valid untuk mendapatkan pengetahuan dan menentukan bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar. Rational-Emotive Behavior Theraphy (REBT) mengadvokasi berpikir ilmiah dan berdasarkan bukti empiris. Secara dialektik, Rational-Emotive Behavior Theraphy (REBT) berasumsi bahwa berpikir logis ini tidak mudah. Kebanyakan individu cenderungahli dalam berpikir tidak logis.
Contoh berpikir tidak logis yang biasanya banyak menguasai individu adalah:
·            Saya harus sempurna.
·            Saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!
·            Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.
Secara sistem nilai,terdapat dua nilai eksplisit dalam filosofi Rational-Emotive Behavior Theraphy (REBT) yang biasanya dipegang oleh individu namun tidak sering diverbalkan, yaitu: (1) Nilai untuk bertahan hidup (survival) dan (2) Nilai kesenangan (enjoyment). Kedua nilai ini di desain oleh individu agar ia dapat hidup lebih panjang, meminimalisir stress emosional dan tingkah laku yang merusak diri, serta mengaktualisasikan diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh dan bahagia. Tujuan-tujuan ini dipandang sebagai pilihan daripada kebutuhan. Hidup yang rasional terdiri dari pikiran, perasaan dan tingkah laku yang berkonstribusi terhadap pencapaian tujuan-tujuan yang dipilih individu. Sebaliknya, hidup yang irasional terdiri dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menghambat pencapaian tujuan tersebut.
Selanjutnya, manusia dipandang memiliki  tiga tujuan fundamental, yaitu: untuk bertahan hidup, untuk bebas dari kesakitan dan untuk mencapai kepuasan. Rational-Emotive behavior Therapy juga berpendapat bahwa individu adalah hedonistic, yaitu kesenangan dan bertahan hisup adalah tujuan utama hidup. Hedonism dapat diartiakn sebagai pencarian kenikmatan dan menghindari kesakitan. Bentuk hedonism khusus yang membutuhkan perhatian adalah pengindeeraan terhadap kesakitan dan ketidaknyamanan. Dalam REBT hal ini menghasilkan Low Frustation Tolerance (LFT). Individu yang memiliki LFT terlihat dari peyataan verbalnya seperti ini : ini terlalu berat, saya pasti tidak mampu, ini menakutkan, saya tidak bisa menjalani ini.
Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irasional individu yang dapat mengakibatkan masalah, yaitu:

Kamis, 25 Oktober 2012

MEMBACA BAHASA TUBUH BAYI

MEMBACA BAHASA TUBUH BAYI


Tips: Membaca Isi Hati Orang dengan Memahami Bahasa Tubuhnya
Bahasa tubuh (body language)
Bahasa tubuh (body language) merupakan alat komunikasi primitif yang sudah lama dipergunakan oleh manusia. Bahasa tubuh merupakan gerakan tubuh dan bagian-bagiannya yang terjadi secara spontan dan merupakan hasil olah alam bawah sadar dalam upayanya mengekspresikan perasaan dan keinginan tersembunyi di dalam hati. Sejak manusia masih berupa bayi, perubahan mimik (ekspresi) wajah dan gerak anggota tubuh merupakan alat komunikasi antara si bayi dengan orang di sekitarnya. Karena seorang anak bayi masih belum bisa berkata-kata, maka bahasa tubuh menjadi bahasa utama dan penting sebagai alat pengungkap perasaan dan keinginannya yang harus dimengerti oleh orang di sekitarnya agar dapat memahami keinginan si bayi dan memenuhi kebutuhannya.

Beberapa contoh bahasa tubuh seorang anak bayi:
-     Menggerak-gerakkan bibir dan mengecap-ngecapnya atau mengisap-isap jarinya: Salah satu tanda bahwa bayi sedang haus dan lapar.
-     Memainkan lidah: Sedang senang, biasanya diikuti dengan menggerak-gerakkan tangan dan kaki.
-     Telapak tangan menggenggam erat: Aku merasa udara dingin.
-     Telapak Tangan membuka: Aku merasa udara hangat.
-     Mengangkat kedua tangannya: Aku ingin digendong atau ingin bermain-main.
-     Tersenyum: Aku sedang merasa senang dan bahagia karena terpuaskan keinginanku.
-     Menangis: Aku sedang marah dan kesal karena tidak ada seorang pun yang memenuhi keinginanku.
-     Menghentak-hentakkan kaki berarti perasaannya sedang ketakutan. Apabila sambil tertawa berarti: Aku sedang merasa sangat senang dan bahagia yang luar biasa karena aku puas. Apabila sambil menangis berarti Aku merasa sangat marah dan kesal karena tidak ada orang yang memenuhi keinginanku.
Setelah manusia menjadi lebih dewasa dan mampu berkomunikasi dengan bahasa lisan secara fasih, bahasa tubuh masih merupakan alat komunikasi penting yang harus diperhatikan di dalam menjalin hubungan di antara sesama manusia. Ekspresi perasaan dan keinginan yang muncul dari alam bawah sadar ini bisa menjadi tanda bagi kita dalam membaca isi hati lawan bicara kita. Bahkan seringkali ucapan kata-kata yang keluar dari mulut seseorang ternyata tidak sesuai dengan bahasa tubuh yang ditampilkan oleh gerak tubuh dan mimik wajahnya, atau dengan kata lain ada upaya menutup-nutupi perasaan yang sesungguhnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memahami bahasa tubuh:
1.   Bagian-bagian tubuh yang harus diperhatikan seperti kepala dan wajah serta bagian-bagiannya, dan tubuh bagian bawah dan anggotanya seperti tangan dan kaki.
2.  Perubahan mimik atau ekspresi wajah.
3.  Gerakan tangan dan kaki.
4.  Arah dan posisi tubuh.
5.  Areal atau wilayah di dalam dan di luar tubuh.