Jumat, 09 November 2012

PERSEPSI


Melihat adalah salah satu cara yang vital bagi kita untuk mengalami hidup. Indra kita, secara kolektif menghubungkan kita dengan dunia. Kita melihat wajah teman yang kita sayangi, merasakan tangan yang merangkul dan menenangkan di pundak kita, atau mendengar nama kita dipanggil. Kemampuan kita untuk memersepsikan dunialah yang memungkinkan kita untuk menjangkau dunia dengan berbagai cara yang kita lakukan setiap hari.
Sensasi dan persepsi adalah proses inti dari pengalaman kita yang paling menakjubkan. Berkunjung ke Derawan misalnya sebagai contoh, seringkali digambarkan sebagai pengalaman yang menakjubkan dan tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Mengalami dan merasakan kedalaman, keluasan, keindahan dan juga suara yang menakjubkan dari lubang raksasa pada bumi kita ini adalah sebuah momen yang mungkin tidak terlupakan. Meskipun begitu, tanpa adanya indra kita, kesempatan ini akan hilang.
Para peneliti sensasi dan presepsi memiliki kekhususan yang sangat luas, seperti oftalmologi, ilmu tentang sturktur, fungsi dan penyakit mata. Audiologi ilmu yang berhubungan dengan pendengaran ; neurologi (neurology), penelitian ilmiah mengenai sistem saraf, dan masih bayak yang lainnya. Untuk memahami sensasi dan presepsi dibutuhkan pemahaman aspek-aspek fisik mengenai objek presepsi kita cahaya, suara, tekstur dan lainnya. Pendekatan psikologis mengenai proses-proses ini melibatkan pemahaman mengenai struktur fisik dan fungsi dari organ indra, dan juga pengolahan otak terhadap informasi ini menjadi pengalaman. Persepsi bukanlah cerminan langsung dari dunia nyata, tetapi lebih kepada interpretasi yang diperhitungkan      sebuah proses konsturktif dan integratif. Kita akan melihat bukti-bukti yang mengejutkan tentang kreativitas yang digunakan oleh otak kita dalam pendekatannya terhadap dunia nyata melalui demonstrasi “titik mati” (blind spot) pada bagian berikut dari bab ini.

A.    Mendeteksi, Memproses, dan Mengiterpretasi Pengalaman
Para peneliti sensasi dan presepsi memiliki kekhususan yang sangat luas, seperti oftalmologi, ilmu tentang sturktur, fungsi dan penyakit mata. Audiologi ilmu yang berhubungan dengan pendengaran ; neurologi (neurology), penelitian ilmiah mengenai sistem saraf, dan masih bayak yang lainnya. Untuk memahami sensasi dan presepsi dibutuhkan pemahaman aspek-aspek fisik mengenai objek presepsi kita cahaya, suara, tekstur dan lainnya. Pendekatan psikologis mengenai proses-proses ini melibatkan pemahaman mengenai struktur fisik dan fungsi dari organ indra, dan juga pengolahan otak terhadap informasi ini menjadi pengalaman. Persepsi bukanlah cerminan langsung dari dunia nyata, tetapi lebih kepada interpretasi yang diperhitungkan      sebuah proses konsturktif dan integratif.
1.      Sensasi
Sensasi (sensation) adalah proses menerima energi rangsangan dari ligkungan luar. Rangsangan terdiri atas energi fisik seperti cahaya, suara, dan panas. Rangsangan dideteksi oleh sel reseptor khusus pada organ indra            mata, telinga, kulit, hidung, dan lidah. Ketika sel-sel reseptor mencatat adanya rangsangan, energi tersebut dikonversi menjadi implus kimia listrik. Proses perubahan energi fisik menjadi energi kimia listrik yang disebut transduksi (transduction). Transduksi menghasilkan potensial aksi yang mengalirkan informasi mengenai rangsangan melalui sistem saraf ke otak (Jia, Dallos, & He, 2007; Lumpkin & Caterina, 2007). Keika rangsangan ini sampai ke otak , informasi bergerak ke bagian yang berhubungan pada korteks serebrum (Pasupathy,2006). Sensasi mengacu pada pendekatan dini tehadap energi dari dunia fisik. Studi terhadap sensasi umumnya berkaitan dengan struktur dan proses mekanisme sensorik beserta stimuli yang mempengaruhi mekanisme-mekanisme tersebut.
2.      Persepsi
Secara etimologi, persepsi atau dalam bahasa inggris perception berasal dari bahasa latin perception yang artinya menerima atau mengambil. Kata persepsi baisanya dikaitkan dengan  kata latin, menjadi persepsi diri, persepsi sosial (Calhoun & Acocella 1990; Gerungan, 1987) dan persepsi interpersonal ( Rahmat, 1994). Persepsi (perception) dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimanan seseorang memandang atau menagrtikan sesuatu (Leavitt 1978).
Persepsi melibatkan kognisi tingkat tinggi dalam penginterpretasian terhadap informasi sensorik. Pada dasarnya, sensasi  mengacu pada pendeteksian dini terhadap stimuli; persepsi  mengacu pada interpretasi hal-hal yang kita indera. Ketika kita membaca buku, mendengarkan iPod, dipijat orang, mencium parfum, atau mencicipi sushi, kita mengalami lebih dari sekedar stimulasi sensorik. Kejadian-kejadian sensorik tersebut di prosessesuai oengetahuan kita tentang dunia, sesuai budaya, pengharapan, bahkan sesuaikan dengan orang yang bersama kita saat itu. Hal-hal tersebut memberikan makna terhadap pengalaman sensorik sederhana dan itulah persepsi.
Otak memberikan makna terhadap sensasi mealui persepsi. Persepsi (peerception) adalah proses mengatur dan mengartikan informasi sensoris untuk memberikan makna. Sel-sel reseptor pada mata kita mencatat benda berwarna perak di angkasa, tetapi sel-sel ini tidak “melihat” sebuah pesawat; sel reseptor di telinga bergetar dengan cara tertentu, tetapi se-sel ini tidak “mendengar” sebuah simfoni. Menemukan pola-pola bermakna dari informasi sensoris inilah yang disebut persepsi. Proses merasa dan memersepsi memeberikan sudut pandang tiga dimensi kepada kita tentang matahari terbenam, sebuah konser musik rock, sentuhan kasih sayang, rasa manis, dan juga aroma bungan dan menthol.

a.      Proses persepsi
Salah satu pandangan yang dianut secara luas menyatakan bahwa, psikologi sebagai telaah ilmiah, berhubungan dengan unsur dan proses yang merupakan perantara rangsangan diluar organisme dengan tanggapan fisik organiseme yang dapat diamati terhadap rangsangan. Menurut rumus ini, yang dikenal dengan teori rangsangan-tanggapan (stimulus-respon/ SR) persepsi merupakan bagian dari keseluruhan proses yang menghasilkan tanggapan setelah rangsangan diterapkan kepada manusia. Subproses psikologis lainnya yang mungkin adalah pengenalan, perasaan, dan penalaran.
Seperti dinyatakan dalam bagan 1 berikut, persepsi dan kognisi diperlukan dalam semua kegiatan psikologis.
Bahkan, diperlukan bagi orang yang paling sedikit terpengaruh atau sadar akan adanya rangsangan menerima dan dengan suatu cara menahan dampak dari rangsangan.


                                                                                                             Penalaran

Rangsangan                                         Persepsi                       Pengenalan                  Tanggapan
                                                                                                           
                                                                                                            Perasaan

Bagan 1
Variabel Psikologis di antara Rangsangan dan Tanggapan


            Rasa dan nalar bukan merupakan bagian yang perlu dari setiap situasi rangsangan-tanggapan, seklaipun kebanyakan tanggapan individu yang sadar dan bebas terhadap satu rangsangan atau terhadap satu bidang rangsangan sampai tingkat tertentu dianggap dipengaruhi oleh akal atau emosi, atau kedua-duanya.
Dari segi psikologi dikatakan bahwa tingkah laku seseorang merupakan fungsi dari cara dia memandang. Oleh karena itu, untuk mengubah tingkah laku seseorang, harus dimulai dari mengubah persepsinya. Dalam proses persepsi ada tiga komponen utama berikut:
1.      Selesksi adalah proses penyaringan oleh indra terhadap rangsangan dari luar, itensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikt.
2.      Interpretasi, yaitu proses pengorganisasian informasi sehingga mempunyai arti bagi sesesorang. Interpretasi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi, kepribadian , dan kecerdasan.
3.      Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagi reaksi (Depdikbud, 1985, dalam Soelaeman, 1987).
Jadi proses persepsi adalah melakukan seleksi, interpretasi, dan pembulatan terhadap informasi yang sampai.

b.      Poses dari Bawah- ke- Atas dan dari Atas ke Bawah
            Para psikolog membedakan antara psoses bawah ke atas dan proses atas ke bawah dalam sensasi dan persepsi. Pada pemrosesan bawah ke atas (bottom up processing), reseptor sensoris mencatat informasi mengenai lingkungan luar mengirimkannya ke otak untuk analisis dan interpretasi. Pemrosesan bawa ke atas di picu oleh masukan rangsangan (Prouix, 2007; Wei & Zhou, 2006). Hal ini berarti mengambil dari lingkungan dan mencoba memahaminya. Sebaliknya pemrosesan dari atas ke bawah (top bottom processing)di picu oleh pemrosesan kognisi pada tingkat yang lebih tinggi di otak (Schlack & Albright, 2007; Zhaoping & Guyader, 2007). Pemrosesan dari atas ke bawah adalah ketika kita merasakan apa yang sedang terjadi dan mangaplikasikan kerangka kerja tersebut pada informasi dari dunia luar. Proses-proses kognitif ini antara lain pengetahuan, sistem kepercayaan, dan juga harapan kita. Oleh karena itu, proses ini tida dipicu oleh pendeteksian sebuah rangsangan seperti pada proses dari bawah ke atas. Kita dapat mengalami pemrosesan dari atas ke bawah dengan cara “mendengarkan” lagu favorit. Ketika kita “mendengar” lagu tersebut di telinga dalam pikiran kita, kita sedang mengalami pengalaman presepsi. Dalam kehidupan sehari-hari, kedua proses sensasi dan presepsi ini pada dasarnya tidak bisa dipisahkan. Otak secara otomatis memersepsi informasi yang diterima dari organ indra. Oleh karena itu kebanyakan psikolog merujuk pada sensasi dan persepsi sebagai sistem pemrosesan informasi terpadu (Goldtein, 2007).

c.       Tujuan Presepsi
Kita dapat memeroleh pemahaman mendalam tentang persepsi dengan mnegajukan sebuah pertanyaan sederhana “Apa tujuannya ?”. menururt para ahli terkemuka di bidang ini, David Marr (1982), tujuan persepsi adalah perwakilan internal dari dunia luar. Sebagai contoh, tujuan penglihatan adalah membentuk perwakilan tiga dimensi dari dunia di otak.
Perbedaan  antara sensasi dan interpretasi (presepsi) terhadap pengalaman yang kita indera. artinya perbedaan antara informasi yang diterima sistem sensori kita dengan informasi yang diintrepretasi pikiran kita menjadi suatu topik utama dalam studi presepsi dan kognisi. Studi yang mempelajari hubungan antara perubahan-perubahan fisik di dunia dengan pengalaman-pengalaman psikologis akibat perubahan tersebut, disebut psikofisika (psychophysics).
Hubungan antara persepsi dan pengethauan sebelumnya tentang dunia dimanifestasikan tidak hanya dalam wujud ilusi geometri sederhana, melainkan dalam penginterpretasikan data-data ilmiah.

d.      Fungsi dan Sifat-sifat dunia persepsi
Fungsi persepsi penelitian tentang persepsi mencakup dua fungsi utama persepsi, yaitu lokalisasi atau menentukan letak suatu objek, dan pengenalan, menentukan jenis objek tersebut (Atkinson). Lokalisasi dan pengenalan dilakukan oleh daerah korteks yang berbeda. Penelitian persepsi juga mengurusi cara sistem perceptual mempertahankan bentuk objek tetap konstan, walaupun citra (bayangan) objek di retina berubah. Permasalahan lain adalah cara kapasitas perceptual kita berkembang.
Sifat-sifat dunia persepsi. Pada hakikatnya dunia persepsi merupakan suatau keseluruhan. Dunia persepsi mempunyai berbagai sifat (Verbeek, 1978). Beberapa sifat itu berlaku untuk segala yang diamati atau dipersespsi. Jadi, berlaku untuk dunia persepsi pada umumnya. Yang lain, merupakan sifa-sifat yang khas dari persepsi dengan indra tertentu. Demikian misalnya, sifat-sifat ruang dapat dipersepsi dengan lebih dari satu indra (penglihatan, pendenganarn, perabaan), tetapi warna hanya dapat saya lihat dan bunyi hanya dapat didengar.
1)      Sifat-sifta umum dunia persespsi
·         Dunia persespsi mempunyai sifat-sifat ruang.
·         Dunia persepsi mempunyai dimensi waktu.
·         Dunia persepsi itu berstruktur menurut berbagai objek.
·         Dunia persepsi adalah suatu dunia yang penuh dengan arti.
2)      Sifat-sifat yang khusus bagi masing-masing indra tersendiri.
Diantara sifat-sifat, terdapat berbagai kelompok yang khusus bagi indra-indra. Merah dan kuning termasuk kelompok yang berlainan dengan asam dan asin. Suatu keseluruhan sifat sensoris yang khas bagi suatu indra tertentu kita sebut modalitas.


B.     Perkembangan Perseptual
Eliane Vurpillot (dalam Sylva dan Lunt, 1986) mengkaji anak-anak berusia antara tiga setengah dan tujuh setengah tahun untuk meneliti perkembangan kemampuan perceptual mereka. Vurpillot menunjukkan kepada anak-anak itu gambar pemandangan yang mencakup sebuah rumah, semak, kolam kecil dan matahari di langit. Ada beberapa benda lain yang berada dalam pemandangan itu, seperti jalan setapak dan pohon besar. Bersamaan dengan gambar ini, kepada anak-anak itu pun ditunjukkan gambar kedua yang mirip dengan gambar pertama, lalu mereka diminta menunjukkan perbedaan diantara kedua gambar tersebut. Selain satu gambar pemabanding tersebut Eliane Vurpillot juga membuat tiga gambar pemabanding lainnya jadi, keempat gambar itu di buat tidak menyerupai gambar yang asli.
Eliane Vurpillot berpendapat bahwa anak-anak berusia tiga setengah tahun dapat dengan cepat memersepsikan perbedaan bentuk dan juga bagian-bagian yang hilang. Pada usia tujuh setegah tahun , mereka terampil dalam melaporkan perubahan ukuran, namun tetap tidak cakap dalam mendeteksi perubahan lokasi.
Dalam memutuskan apakah gambar-gambar tersebut mirip, anak yang lebih kecil tidak ambil pusing untuk membandingkan ukuran atau lokasi. Bagi mereka, keputusan ya atau tidak bergantung pada bentuk yang sama pada tiap gambar dan juga hanya pada ada tidaknya sesuatu. Vurpillot mengatakan bahwa respons terhadap tugas ini detentukan oleh pemahaman menegenai apa yang membuat peristiwa visual mirip. Sejauh bagian-bagian tersebut ada dan dalam bentuk identik, si anak sudah cukup puas bahwa gambar-gambar tersebut mirip. Anak yang lebih besar memerlukan sesuatu yang lebih  bahwa komponene-komponen gambar berukuran sama dan berlokasi sama. Pemahamannya mengenai kemiripan perceptual meliputi ukuran dan lokasi benda, di samping ada tidaknya benda dan bentuk benda.
C.    Persepsi dan Sensasi
Sensasi pada dasarnya merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi, atau dalam bahasa Inggrisnya sensation, berasal dari kata latin, sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek. Secara lebih luas, sensasi dapat diartikan sebagai aspek kesadaran yang paling tinggi, warna hijau, rasa nikmatnya sebatang coklat.
Adapun definisi sensasi, fungsi alat indra dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indra, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat indralah, manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Tanpa alat indra, manusia sama, bahkan mungkin lebih rendah lebih dari rumput-rumputan, karena rumput dapat juga mengindra cahaya, dan humiditas (Lefrancois, 1947, dalam Rakhmat, 1994).
Jadi, proses sensasi dan persepsi itu berbeda. Dalam ungkapan lain disebutkan, “sensasi ialah penerimaan stimulus lewat indra, sedangkan persepsi adalah menafsirrkan stimulus yang telah ada dalam otak” (Mahmud, 1990:41). Meskipun alat untuk menerima stimulus pada setiap individu, interpretasinya berbeda.
D.    Persepsi dan Kognisi
Persepsi, kognisi, penalaran, dan perasaan sesungguhhnya berlangsung secara simultan, dan kebanyakan dari apa yang disebut pemikiran, impian, bayangan, berkhayal, belajar, dan semacamnya merupakan kombinasi unsur-unsur persepsi, kognisi, penalaran, dan perasaan tersebut.
Secara singkat, persepsi dapat didefinisikan sebagai cara manusia menangkap rangsangan. Kognisis adalah cara manusia member arti pada rangsangan. Penalaran adalah proses sewaktu rangsangan dihubungkan degan rangsangan lainnya pada tingkat penbentukkan kegiatan psikologi. Perasaan adalah konotasi emosional yang dihasilkan oleh rangsangan, baik sendri maupun bersama-sama, dengan rangsangan lain pada tingkat kognitif atau konseptual.
E.     Hukum Hukum Gestalt
Psikologi Gestalt telah menyelidiki berbagai faktor atau relasi yang biasanya merupakan syarat-syarat untuk persepsisuatu totalitas atau keseluruhan. Maka disusunlah hukum-hukum Gestalt. Jadi, hukum-hukum Gestalt ini menentukan menurut asas-asas atau pola-pola manakah suatu Gestalt terjadi dalam suatu medan persepsi.
a.      Hukum kedekatan atau Proksimitas
            Ahli Psikologi Gestalt mengajukan sejumlah determinan dalam pengelompokan. Salah satunya adalah kedekatan (proximity); objek-objek yang saling berdekatan cenderung untuk dikelompokkan dalam persepsi kita.
b.      Hukum Kesamaan
            Determinan pengelompokkan lain lagi yang perlu disebutkan adalah kesamaan atau kemiripan (similarity). Ketika menghadapi sejumlah unsur yang bemacam-macam, kita cenderung untuk menggabungkan unsur-unsur yang sama menjadi suatu Gestalt.
c.       Hukum Benda Tertutup
Garis-garis yang bersama-sama membatasi atau menutup suatu bidang atau ruang di pandang sebagai suatu kesatuan.
d.      Hukum Kontinuitas (Kelangsungan)
Tugas yang juga dapat digunakan utnuk meneliti determinan pengelompokan lain, yaitu kontinuitas; kecenderungan kita untuk mengelompkan objek yang membentuk kontur yang tidak terbentuk.
e.       Hukum Gerak Bersama
Pada dasarnya, unsur-unsur yang bergerak dengan cara yang sama, dilihat sebagai suatu kesatuan sudah titik.

Related Posts

PERSEPSI
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.